Surakarta — Kota Solo memiliki sejumlah ruang baca yang dapat diakses masyarakat secara gratis maupun dengan pendaftaran sederhana. Keberadaan ruang literasi ini tersebar di berbagai institusi keagamaan, pemerintah, hingga museum, memperkuat budaya baca di tengah masyarakat. Fasilitasnya pun beragam, mulai dari koleksi buku umum, literatur sejarah, hingga referensi ekonomi dan jurnalistik.

Di kawasan Gilingan, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo menyediakan sudut baca yang dapat dimanfaatkan jamaah dan pengunjung untuk membaca literatur keagamaan maupun buku umum dalam suasana tenang. Sementara itu, Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surakarta di Jl. Slamet Riyadi No. 275 menjadi pusat literasi utama dengan koleksi ribuan buku, layanan anggota gratis, ruang baca nyaman, serta jam operasional umumnya Senin–Jumat pukul 08.00–16.00 WIB.

Ruang baca tematik juga hadir di sejumlah lokasi. Perpustakaan Sakalasastra Bank Indonesia menyediakan koleksi ekonomi dan literatur finansial untuk publik dengan akses gratis melalui registrasi kunjungan. Monumen Pers Nasional memiliki perpustakaan khusus sejarah pers dan jurnalistik yang dapat diakses pengunjung tanpa biaya tambahan. Sementara itu, Ruang Baca Mburi Sriwedari menawarkan suasana santai di kawasan seni Sriwedari dan terbuka untuk umum saat jam operasional kawasan.

Berbeda dengan perpustakaan umum, Museum Radya Pustaka kini menerapkan tiket masuk museum sejak 2024. Tarifnya berkisar sekitar Rp7.500–Rp10.000 untuk pengunjung domestik dan sekitar Rp50.000 untuk wisatawan mancanegara, dengan kemungkinan tarif khusus pelajar. Meski berbayar, pengunjung tetap dapat memanfaatkan koleksi literatur klasik dan naskah Jawa yang menjadi kekayaan sejarah penting Kota Surakarta. Keberagaman ruang baca ini menunjukkan bahwa Solo terus menyediakan akses pengetahuan dalam berbagai bentuk, dari yang gratis hingga berbasis tiket edukatif.