Skip to main content
Taman Ikonik Syarat Sejarah, Banjarsari

Taman Ikonik Syarat Sejarah, Banjarsari

Sepasang Arca Dwarapala siap menyambut setiap pelancong yang bertandang ke Taman Monumen Banjarsari (Monjari) Solo. Salah satu ikon Kota Solo ini lebih dikenal dengan nama Villa Park Banjarsari. Nama itu lekat lantaran beberapa dekade lalu tepatnya pada zaman Mangkunegara IV taman itu berada di tengah-tengah villa pekerja perkebunan asal Eropa.

Di zaman itu, fungsi lahan sekeliling taman berubah dari arena pacuan kuda menjadi tempat hunian. Arena pacuan kuda adalah bagian dari tempat latihan Legiun Mangkunegaran. Legiun itu dibentuk pada masa pemerintahan Mangkunegara II yang didanai oleh Kerajaan Belanda.

Pasukannya berasal dari mantan anggota pasukan tempur Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I). Legiun Mangkunegaran saat itu berkekuatan 1150 personil yang terdiri dari pasukan infantri, kavaleri dan artileri.

Bergerak pada masa perjuangan fisik kemerdekaan. Sebuah peristiwa bersejarah terjadi di tempat ini, yakni Serangan Umum Empat Hari yang terjadi pada 7-10 Agustus 1949. Pengagas serangan tersebut adalah Letkol Slamet Riyadi dan rekannya Mayor Ahmadi yang kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional. Untuk memperingati peristiwa itu, dibangunlah Monumen 45 di Villa Park Banjarsari.

 

Arena Bermain di Taman Monjari Solo - Monumen Banjarsari
Arena Bermain di Taman Monjari Solo - Monumen Banjarsari

 

Monumen 45 Banjarsari di bangun Pemerintah Kota Surakarta pada tanggal 31 Oktober 1973. Setelah tiga tahun pembangunan, Monumen 45 Banjarsari diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Soepardjo Roestam pada 10 November 1976, bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Tugu Monumen 45 berbentuk atap rumah Joglo setinggi 17 meter yang melambangkan hari kemerdekaan Indonesia. Di sisi sebelah selatan dibangun tiga patung yang terdiri dari prajurit, pemuda pejuang dan wanita yang membawa bakul (tempat nasi) dan obat-obatan. Di atasnya terdapat simbol Garuda Pancasila yang menempel di tugu. Di bawah patung tiga pejuang, terdapat deretan relief yang dibuat melingkar tugu. Relief-relief ini menceritakan tentang rangkaian kejadian penting perjuangan rakyat Solo sejak perang kemerdekaan hingga Orde Baru.

Pasca krisis ekonomi 1998, taman itu sempat kumuh karena banyaknya pedagang kaki lima dan oprokan yang menggelar dagangan. Delapan tahun setelahnya, Walikota yang saat ini menjabat sebagai Presiden RI, Jokowi sukses menertibkan para pedagang itu. Fungsi taman sebagai ruang terbuka hijau kembali. Pedagang dipindah ke Pasar Klithikan Semanggi, Pasar Kliwon, dirayakan dalam bentuk kirab arak-arakan yang bermartabat dan bersejarah pada 23 Juli 2006.

Kini, Taman Monjari, sebutan akrabnya, bukan hanya ditata tetapi juga dilengkapi air mancur, jalur pedestrian, dan hutan hijau. Taman dibagi menjadi empat segmen menjadi arena olahraga, taman bermain, tempat kebugaran, dan hutan kota.