Semarak Jenang Sala

Semarak Jenang Sala

Eksistensi jenang pada tradisi masyarakat Jawa dan Solo khususnya sudah hidup mengakar sejak zaman Hindu dan era Walisongo sampai masa kini. Jenang selalu hdir sebagai simbol ungkapan rasa syukur kepadaNya.

Bersyukur atas karunia hasil bumi ciptaanNya yang telah menghidupi manusi dari proses kelahiran sampai kematian. Masyarakat Jawa khususnya di wilayah Surakarta dan sekitarnya, semua ritual selamatan itu tak pernah lepas dari keberadaan jenang.

Kehadiran jenang – pada umumnya makanan khas ini dibuat dari tepung beras atau tepung ketan, dimasak dengan santan ditambahkan gula merah atau gula putih – tak hanya sekedar berfungsi sebagai makanan pelengkap saja, melainkan juga simbol doa, harapan, persatuan dan semangat masyarakat Jawa itu sendiri.

 

Sifat yang melekat secara implisit itulah yang bisa membuat jenang punya nilai edukatif pada masyarakat. Suatu nilai edukatif dalam membangun kebersamaan masyarakat Solo untuk saling berbagi dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Jawa, khususnya di Wilayah Surakarta dan sekitarnya, semua ritual selamatan tak pernah lepas dari keberadaan jenang (bubur). Kehadiran jenang di sini tak hanya sekedar berfungsi sebagai makan pelengkap, saja melainkan juga simbol doa, harapan, persatuan dan semangat masyarakat Jawa itu sendiri.

Misalnya untuk mendoakan supaya ibu hamil diberikan kelancaran dalam melahirkan, maka dibuatlah selamatan dengan menggunakan jenang procotan. Begitu pula ketika memberi nama kepada bayi setelah lahir maka dibuatlah jenang sepasaran.

Setelah punya hajat pernikahan supaya pengantin dan seluruh panitia yang terlibat diberi kesehatan, berkah dan kekuatan maka diadakan selamatan dengan membuat jenang sungsum.

Kontak Kami

Dinas Pariwisata Kota Surakarta
Jl. Brigjen Slamet Riyadi No. 275 Surakarta
Jawa Tengah Java - Indonesia

  • Telp: +62 271 711435

Terhubung dengan Kami

Kami ada di Sosial Media. Ikuti kami dan dapatkan informasi tentang pariwisata di Kota Solo dan sekitarnya.